Assalamualaikum,,
semoga bermanfaat buat para pembaca
Kamis, 03 Mei 2012
Rabu, 02 Mei 2012
mencintai dalam diam
Kalau kita mencintai seseorang,
jangan beritahu si dia.
Nanti Allah kurangkan rasa cinta padanya
Tapi luahkan pada Allah,
beritahulah Allah.
Allah Maha mengetahui siapa jodoh kita ..
Cintai Dia Dalam Diam,
Dari Kejauhan Dengan Kesederhanaan & Keikhlasan
Jika benar cinta itu karena ALLAH maka biarkanlah ia mengalir mengikut aliran ALLAH karena hakikatnya ia berhulu dari ALLAH maka ia pun berhilir hanya kepada ALLAH!
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran ALLAH.”
(Adz Dzariyat : 49)
Tetapi jika kelemahan masih nyata dipelupuk mata maka bersabarlah, berdoalah & berpuasalah
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji.
Dan suatu jalan yang buruk.”
(Al Israa’ : 32 )
Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati yang tak kunjung datang,
Allah SWT mempunyai Cinta dan Kasih yang lebih besar dari segalanya & Dia telah menciptakan sseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak.
Ketika kau merasa bahwa kau mencintai seseorang,
namun kau tahu cintamu tak terbalas
Allah SWT tahu apa yang ada di depanmu & Dia sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu
Cukup cintai dalam diam
bukan karena membenci hadirnya
tetapi menjaga kesuciannya
bukan karena menghindari dunia
tetapi meraih syurga-NYA
bukan karena lemah untuk menghadapinya
tetapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup
Cukup cintai dari kejauhan
karena hadirmu tiada kan mampu menjauhkan dari ujian
karena hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan
karena mungkin membawa kelalaian hati-hati yang terjaga
Cukup cintai dengan kesederhanaan
Memupuknya hanya akan menambah penderitaan
menumbuhkan harapan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan
Cintailah dengan keikhlasan
karena tentu kisah Fatimah dan Ali Bin Abi Talib diingini oleh hati
tetapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi..??
“.. boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Al Baqarah : 216 )
Jangan memberi harapan pada yang belum pasti,
kelak ada insan yang bakal dilukai,
Jangan menaruh harapan pada yang belum tentu dimiliki,
nanti hati yang kecewa sendiri.
Sebaliknya,
gantunglah segenap pengharapanmu kepada Yang Maha Memberi,
niscaya dirimu tak sesekali dizalimi,
karena Dia mendengar pengharapanmu setiap kali & Dia menunaikannya dgn cara-Nya yang tersendiri
Cukup cintai dalam diam dari kejauhan dengan kesederhanaan & keikhlasan
karena tiada yang tahu rencana Tuhan
mungkin saja rasa ini ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan
karena hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikkan
serahkan rasa itu pada Yang Memberi dan Memilikinya
biarkan DIA yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya.
“Barangsiapa yang menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.”
(Umar Bin Khattab ra)
Jika Anda benar-benar mencintainya, Anda tidak akan menyentuhnya.
Bahkan tidak sedikit pun.
Anda akan melindungi martabat dan kesucian sebagai seorang muslimah.
Hanya memeluknya dalam hati Anda untuk beberapa tahun lagi ..
maka Anda dapat melakukannya dengan cara yang halal
“Sesiapa saja yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah,membenci karena Allah & menikah karena Allah, maka berarti ia telah sempurna imannya.”
(HR. Al-Hakim)
''''''' Sebelum tiba waktunya untuk kamu halal bersama si dia, tahanlah hatimu. Tahanlah perasaanmu. Jika perasaan itu tidak tertahan lagi, coretkan segala isi hatimu tentang cinta & rindu, tentang doa & harapanmu padanya dalam tulisan.
Dan simpanlah tulisan yang tidak beralamat itu sebaik mungkin.
Bila tiba saatnya kamu disatukan, maka serahkanlah segala isi hatimu itu padanya. Dia pasti bahagia menerimanya, tapi jika waktu itu belum tiba.
Biarlah ia menjadi RAHASIA antara dirimu dan Sang Pencipta saja karena kelak jika dia bukan milikmu, bakarlah coretan itu bersama hilangnya wajah si dia dari hatimu
Sumber:Berbagai Sumber
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
jangan beritahu si dia.
Nanti Allah kurangkan rasa cinta padanya
Tapi luahkan pada Allah,
beritahulah Allah.
Allah Maha mengetahui siapa jodoh kita ..
Cintai Dia Dalam Diam,
Dari Kejauhan Dengan Kesederhanaan & Keikhlasan
Jika benar cinta itu karena ALLAH maka biarkanlah ia mengalir mengikut aliran ALLAH karena hakikatnya ia berhulu dari ALLAH maka ia pun berhilir hanya kepada ALLAH!
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran ALLAH.”
(Adz Dzariyat : 49)
Tetapi jika kelemahan masih nyata dipelupuk mata maka bersabarlah, berdoalah & berpuasalah
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji.
Dan suatu jalan yang buruk.”
(Al Israa’ : 32 )
Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati yang tak kunjung datang,
Allah SWT mempunyai Cinta dan Kasih yang lebih besar dari segalanya & Dia telah menciptakan sseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak.
Ketika kau merasa bahwa kau mencintai seseorang,
namun kau tahu cintamu tak terbalas
Allah SWT tahu apa yang ada di depanmu & Dia sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu
Cukup cintai dalam diam
bukan karena membenci hadirnya
tetapi menjaga kesuciannya
bukan karena menghindari dunia
tetapi meraih syurga-NYA
bukan karena lemah untuk menghadapinya
tetapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup
Cukup cintai dari kejauhan
karena hadirmu tiada kan mampu menjauhkan dari ujian
karena hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan
karena mungkin membawa kelalaian hati-hati yang terjaga
Cukup cintai dengan kesederhanaan
Memupuknya hanya akan menambah penderitaan
menumbuhkan harapan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan
Cintailah dengan keikhlasan
karena tentu kisah Fatimah dan Ali Bin Abi Talib diingini oleh hati
tetapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi..??
“.. boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Al Baqarah : 216 )
Jangan memberi harapan pada yang belum pasti,
kelak ada insan yang bakal dilukai,
Jangan menaruh harapan pada yang belum tentu dimiliki,
nanti hati yang kecewa sendiri.
Sebaliknya,
gantunglah segenap pengharapanmu kepada Yang Maha Memberi,
niscaya dirimu tak sesekali dizalimi,
karena Dia mendengar pengharapanmu setiap kali & Dia menunaikannya dgn cara-Nya yang tersendiri
Cukup cintai dalam diam dari kejauhan dengan kesederhanaan & keikhlasan
karena tiada yang tahu rencana Tuhan
mungkin saja rasa ini ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan
karena hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikkan
serahkan rasa itu pada Yang Memberi dan Memilikinya
biarkan DIA yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya.
“Barangsiapa yang menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.”
(Umar Bin Khattab ra)
Jika Anda benar-benar mencintainya, Anda tidak akan menyentuhnya.
Bahkan tidak sedikit pun.
Anda akan melindungi martabat dan kesucian sebagai seorang muslimah.
Hanya memeluknya dalam hati Anda untuk beberapa tahun lagi ..
maka Anda dapat melakukannya dengan cara yang halal
“Sesiapa saja yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah,membenci karena Allah & menikah karena Allah, maka berarti ia telah sempurna imannya.”
(HR. Al-Hakim)
''''''' Sebelum tiba waktunya untuk kamu halal bersama si dia, tahanlah hatimu. Tahanlah perasaanmu. Jika perasaan itu tidak tertahan lagi, coretkan segala isi hatimu tentang cinta & rindu, tentang doa & harapanmu padanya dalam tulisan.
Dan simpanlah tulisan yang tidak beralamat itu sebaik mungkin.
Bila tiba saatnya kamu disatukan, maka serahkanlah segala isi hatimu itu padanya. Dia pasti bahagia menerimanya, tapi jika waktu itu belum tiba.
Biarlah ia menjadi RAHASIA antara dirimu dan Sang Pencipta saja karena kelak jika dia bukan milikmu, bakarlah coretan itu bersama hilangnya wajah si dia dari hatimu
Sumber:Berbagai Sumber
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
Selasa, 01 Mei 2012
saat cinta menghampiri
Jatuh cinta pada seorang wanita,
mungkin semua pria pernah mengalaminya(sperti aku hee). Rasanya hampir tak
terkatakan.
Ada kalanya cinta itu membahagiakan, tapi tak jarang juga menyakitkan. Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullah membagi cinta kepada wanita ini dalam tiga bentuk.
Pertama, Mencintai dengan maksud ketaatan dan taqorrub kepada Allah Ta’ala. Ini merupakan cinta kepada istri dan budak wanita yang dimiliki. Merupakan cinta yang bermanfaat dan dapat mengantarkan pada tujuan yang disyari’atkan Allah dan pernikahan, dapat menahan pandangan mata dan hati untuk melirik wanita selain istrinya. Orang yang mencintai semacam ini dipuji di sisi Allah dan di tengah manusia.
Kedua, Cinta yang dibenci Allah dan menjauhkan dari rahmat-Nya. Cinta yang hanya memperturutkan hawa nafsu. Demi cinta ini, seorang hamba mau melanggar syari’at Allah ‘Azza Wa Jalla.
Cinta ini merupakan yang paling berbahaya bagi hamba, yang dapat mengancam dien dan dunianya. Siapa yang memiliki cinta ini, dia hina dihadapan Allah, dia orang yang hatinya paling jauh dari Allah, dan cinta ini merupakan tabir penghalang antara dirinya dengan Allah.
Untuk mengobatinya adalah dengan memohon
pertolongan kepada Allah yang membolak-balikkan hati,bersungguh-sungguh untuk kembali kepada-Nya. Sibuk mengingatnya, menyibukkan diri dan mengganti cinta itu dengan cinta hanya pada Allah. Memikirkan derita dan sengsara yang akan dialami lantaran cinta itu, dan menggambarkan keindahan sebenarnya dengan meninggalkan cinta itu.
Ketiga, Cinta yang mubah. Cinta yang tiba-tiba datang, seperti mencintai wanita yang sifatnya dikatakan kepadanya atau dilihat dengan tidak sengaja, lalu hati pun tertambat padanya. Tapi cinta ini tak sampai menjerumuskan dirinya hingga melakukan maksiatdan kedurhakaan (seperti berhubungan atau berpacaran dengan wanita itu).
Yang ini tidak menimbulkan siksaan. Yang paling bermanfaat adalah membuang jauh-jauh cinta ini dan
menyibukkan diri dengan hal yang lebih bermanfaat. Dan juga harus menyembunyikan perasaannya, dan sabar dalam menghadapi ujian cinta ini sehingga dengannya Allah memberikannya pahala. Yang mesti dilakukannya adalah mengganti cintanya itu dengan kesabaran karena Allah,tidak patuh pada bisikan nafsu dan lebih mementingkan keridhoan Allah dan apa yang ada di sisi-Nya .
Dari tiga bentuk cinta di atas, dapat dipahami bahwa seandainya bara cinta itu yang lahir karena keindahan wajah seorang wanita mampu dipendam, bahkan diredam dan tidak melanjutkannya pada tahapan yang melanggar syari’at (seperti pacaran), kemudian bersabar dan memohon ketabahan kepada Allah, dan lebih
memilih keridhoan walau harus bertarung dengan perasaan sendiri, maka ini yang dibolehkan.
Dan satu hal yang tak boleh dilupakan seorang muslim bahwa Allah tak mungkin menyia-nyiakan hamba-Nya yang lebih memilih cinta dan kasih sayang-Nya, meskipun harus merelakan sang kekasih menjadi milik orang
lain.
Mungkin dengan ujian cinta dan sikap kita yang seperti itu(lebih memilih keridhoan Allah), Allah ingin kita menjadi hamba pilihan yang kelak akan merasakan indahnya bersanding dengan bidadari nan menawan dijannah-Nya.
Andaikan memilih bentuk cinta kedua, maka ini yang disebutkan Ibnul Qoyyim bahwa permulaannya yang ringan dan manis .Pertengahannya kekhawatiran, kesibukan hati dan siksaan dan
kesudahannya adalah kebinasaan dan kematian.
Adapun bentuk cinta yang ketiga, maka obatnya hanya dua.
Pertama, berpuasa dan menyibukkan diri dari hal yang mampu menjauhkan pikiran ke arah “sana”.
Kedua, jika puasa sudah tidak bisa meredam gejolak cinta itu, maka tak ada jalan lain
lagi selain menikah. “Menikah dengan wanita yang dicintai merupakan obat cinta yang paling mujarab, yang dijadikan Allah sebagai penawar yang sejalan dengan ketaatan syari ’at”, demikian Ibnul Qoyyim Rahimahullah meyakinkan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda (artinya): “Ada tiga perkara apabila terdapat pada diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman.
(1) Ia menjadikan Allah dan Rosul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya.
(2) Ia mencintai seseorang karena Allah, ia membenci seseorang hanya kepada Allah,
(3) Ia sangat benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam api.”
Ada kalanya cinta itu membahagiakan, tapi tak jarang juga menyakitkan. Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullah membagi cinta kepada wanita ini dalam tiga bentuk.
Pertama, Mencintai dengan maksud ketaatan dan taqorrub kepada Allah Ta’ala. Ini merupakan cinta kepada istri dan budak wanita yang dimiliki. Merupakan cinta yang bermanfaat dan dapat mengantarkan pada tujuan yang disyari’atkan Allah dan pernikahan, dapat menahan pandangan mata dan hati untuk melirik wanita selain istrinya. Orang yang mencintai semacam ini dipuji di sisi Allah dan di tengah manusia.
Kedua, Cinta yang dibenci Allah dan menjauhkan dari rahmat-Nya. Cinta yang hanya memperturutkan hawa nafsu. Demi cinta ini, seorang hamba mau melanggar syari’at Allah ‘Azza Wa Jalla.
Cinta ini merupakan yang paling berbahaya bagi hamba, yang dapat mengancam dien dan dunianya. Siapa yang memiliki cinta ini, dia hina dihadapan Allah, dia orang yang hatinya paling jauh dari Allah, dan cinta ini merupakan tabir penghalang antara dirinya dengan Allah.
Untuk mengobatinya adalah dengan memohon
pertolongan kepada Allah yang membolak-balikkan hati,bersungguh-sungguh untuk kembali kepada-Nya. Sibuk mengingatnya, menyibukkan diri dan mengganti cinta itu dengan cinta hanya pada Allah. Memikirkan derita dan sengsara yang akan dialami lantaran cinta itu, dan menggambarkan keindahan sebenarnya dengan meninggalkan cinta itu.
Ketiga, Cinta yang mubah. Cinta yang tiba-tiba datang, seperti mencintai wanita yang sifatnya dikatakan kepadanya atau dilihat dengan tidak sengaja, lalu hati pun tertambat padanya. Tapi cinta ini tak sampai menjerumuskan dirinya hingga melakukan maksiatdan kedurhakaan (seperti berhubungan atau berpacaran dengan wanita itu).
Yang ini tidak menimbulkan siksaan. Yang paling bermanfaat adalah membuang jauh-jauh cinta ini dan
menyibukkan diri dengan hal yang lebih bermanfaat. Dan juga harus menyembunyikan perasaannya, dan sabar dalam menghadapi ujian cinta ini sehingga dengannya Allah memberikannya pahala. Yang mesti dilakukannya adalah mengganti cintanya itu dengan kesabaran karena Allah,tidak patuh pada bisikan nafsu dan lebih mementingkan keridhoan Allah dan apa yang ada di sisi-Nya .
Dari tiga bentuk cinta di atas, dapat dipahami bahwa seandainya bara cinta itu yang lahir karena keindahan wajah seorang wanita mampu dipendam, bahkan diredam dan tidak melanjutkannya pada tahapan yang melanggar syari’at (seperti pacaran), kemudian bersabar dan memohon ketabahan kepada Allah, dan lebih
memilih keridhoan walau harus bertarung dengan perasaan sendiri, maka ini yang dibolehkan.
Dan satu hal yang tak boleh dilupakan seorang muslim bahwa Allah tak mungkin menyia-nyiakan hamba-Nya yang lebih memilih cinta dan kasih sayang-Nya, meskipun harus merelakan sang kekasih menjadi milik orang
lain.
Mungkin dengan ujian cinta dan sikap kita yang seperti itu(lebih memilih keridhoan Allah), Allah ingin kita menjadi hamba pilihan yang kelak akan merasakan indahnya bersanding dengan bidadari nan menawan dijannah-Nya.
Andaikan memilih bentuk cinta kedua, maka ini yang disebutkan Ibnul Qoyyim bahwa permulaannya yang ringan dan manis .Pertengahannya kekhawatiran, kesibukan hati dan siksaan dan
kesudahannya adalah kebinasaan dan kematian.
Adapun bentuk cinta yang ketiga, maka obatnya hanya dua.
Pertama, berpuasa dan menyibukkan diri dari hal yang mampu menjauhkan pikiran ke arah “sana”.
Kedua, jika puasa sudah tidak bisa meredam gejolak cinta itu, maka tak ada jalan lain
lagi selain menikah. “Menikah dengan wanita yang dicintai merupakan obat cinta yang paling mujarab, yang dijadikan Allah sebagai penawar yang sejalan dengan ketaatan syari ’at”, demikian Ibnul Qoyyim Rahimahullah meyakinkan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda (artinya): “Ada tiga perkara apabila terdapat pada diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman.
(1) Ia menjadikan Allah dan Rosul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya.
(2) Ia mencintai seseorang karena Allah, ia membenci seseorang hanya kepada Allah,
(3) Ia sangat benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam api.”
Langganan:
Postingan (Atom)
